
Digigit anjing atau kucing bisa terjadi kapan saja, baik saat bermain dengan hewan peliharaan maupun ketika bertemu hewan di jalan. Meski luka terlihat kecil, gigitan hewan tidak boleh dianggap sepele. Gigi hewan dapat menembus kulit dan membawa bakteri ke dalam jaringan tubuh. Dalam kondisi tertentu, gigitan juga berisiko menularkan rabies, penyakit serius yang dapat berakibat fatal setelah gejala muncul.
Lantas, apakah setiap gigitan anjing atau kucing harus dibawa ke rumah sakit? Jawabannya, luka gigitan yang menembus kulit perlu segera mendapatkan penilaian medis, terutama jika hewan tidak diketahui status vaksinasinya atau berperilaku tidak biasa. Pertolongan pertama yang tepat dapat membantu mengurangi risiko infeksi dan memberi waktu bagi tenaga medis untuk menilai kebutuhan vaksin rabies maupun penanganan lainnya.
Mengapa Gigitan Anjing dan Kucing Tidak Boleh Diabaikan?
Luka gigitan hewan memiliki risiko yang berbeda-beda, bergantung pada kedalaman luka, lokasi gigitan, kondisi hewan, dan status vaksinasi rabiesnya.
Gigitan kucing sering kali meninggalkan lubang kecil tetapi cukup dalam. Kondisi ini memungkinkan bakteri masuk ke jaringan di bawah kulit. Sementara itu, gigitan anjing dapat menyebabkan luka robek, perdarahan, hingga kerusakan jaringan yang lebih serius.
Selain infeksi bakteri, risiko rabies perlu diperhatikan. Rabies dapat menular melalui air liur hewan yang terinfeksi, terutama ketika air liur masuk melalui luka, kulit yang rusak, atau selaput lendir. Heysehat menyebutkan anjing dan kucing merupakan hewan yang perlu diperhatikan dalam penilaian risiko rabies.
Jangan menunggu munculnya gejala untuk mencari pertolongan. Setelah gejala rabies berkembang, penyakit ini hampir selalu berakibat fatal. Karena itu, penilaian medis dan tindakan pencegahan harus dilakukan sedini mungkin.
Langkah Pertolongan Pertama Setelah Digigit Hewan
Jika Anda atau anggota keluarga digigit anjing atau kucing, lakukan beberapa langkah berikut.
1. Cuci Luka dengan Air Mengalir dan Sabun
Segera cuci bagian yang tergigit menggunakan air mengalir dan sabun selama sekitar 15 menit. Langkah ini penting untuk membantu menghilangkan kotoran, air liur, dan mengurangi jumlah virus rabies pada luka.
Jangan hanya membilas luka sebentar, terlebih jika terdapat bekas tusukan gigi. Bersihkan dengan hati-hati tanpa menggosok jaringan luka secara kasar.
2. Hentikan Perdarahan Jika Ada
Apabila luka mengeluarkan darah, tekan menggunakan kain bersih atau kasa steril secara perlahan tetapi mantap. Jika perdarahan cukup deras, terus berikan tekanan langsung sambil mencari bantuan medis.
Jika darah tidak berhenti, luka tampak dalam, atau jaringan di bawah kulit terlihat, segera pergi ke instalasi gawat darurat.
3. Tutup Luka dengan Kasa Bersih
Setelah dibersihkan, tutup luka menggunakan kasa steril atau balutan bersih yang tidak terlalu ketat. Hindari mengoleskan bahan yang tidak direkomendasikan, seperti kopi, pasta gigi, minyak, atau ramuan tradisional.
Jangan menjahit, merekatkan, atau menutup rapat luka gigitan sendiri. Dokter perlu menilai apakah luka membutuhkan tindakan khusus.
4. Segera Cari Pertolongan Medis
Jangan menunda pemeriksaan hanya karena luka terlihat kecil atau rasa sakitnya sudah berkurang. Datangi fasilitas kesehatan sesegera mungkin, idealnya segera setelah pertolongan pertama dilakukan.
Tenaga medis akan menilai kemungkinan paparan rabies, kebutuhan vaksin rabies dan serum atau imunoglobulin rabies jika diindikasikan, risiko infeksi bakteri, serta kebutuhan vaksin tetanus.
Kapan Gigitan Anjing atau Kucing Harus Dibawa ke Rumah Sakit?
Pada dasarnya, gigitan yang menembus kulit perlu dinilai oleh tenaga medis. Namun, beberapa keadaan membutuhkan penanganan darurat, antara lain:
- Luka gigitan dalam, robek lebar, atau perdarahan sulit dihentikan.
- Gigitan terjadi pada wajah, kepala, leher, tangan, jari, atau dekat sendi.
- Korban mengalami mati rasa, sulit menggerakkan anggota tubuh, atau nyeri berat.
- Korban adalah anak kecil atau memiliki kondisi yang meningkatkan risiko infeksi.
- Hewan liar, tidak dikenal, belum diketahui status vaksinasinya, atau menunjukkan perilaku mencurigakan.
- Muncul kemerahan yang meluas, bengkak, terasa panas, keluar nanah, atau demam setelah gigitan.
Jika luka berat atau perdarahan tidak terkendali, segera ke instalasi gawat darurat. Untuk paparan yang berpotensi menularkan rabies, segera cari fasilitas kesehatan yang dapat melakukan penilaian dan memberikan penanganan pascapaparan.
Apakah Gigitan Hewan Selalu Membutuhkan Vaksin Rabies?
Tidak semua gigitan otomatis memerlukan rangkaian vaksin yang sama. Keputusan bergantung pada jenis paparan, kondisi luka, jenis hewan, situasi rabies di wilayah tersebut, dan riwayat vaksinasi korban.
Dokter akan menilai apakah korban memerlukan vaksin rabies, imunoglobulin atau serum antirabies, atau tindakan lain sesuai pedoman yang berlaku. Orang yang belum pernah mendapat vaksin rabies sebelumnya mungkin membutuhkan penanganan berbeda dari orang yang sudah pernah divaksinasi.
Jangan menganggap hewan peliharaan yang terlihat sehat pasti bebas rabies. Demikian pula, jangan menunda pemeriksaan hanya karena pemilik mengatakan hewan sudah divaksinasi. Informasi vaksinasi dapat membantu penilaian, tetapi keputusan medis tetap perlu dilakukan oleh tenaga kesehatan.
Jika memungkinkan, catat ciri-ciri hewan, lokasi kejadian, waktu gigitan, dan informasi pemilik atau vaksinasi hewan. Jangan mencoba menangkap hewan liar atau membahayakan diri demi memeriksa kondisinya.
Tanda Infeksi yang Perlu Diwaspadai
Selain rabies, luka gigitan dapat mengalami infeksi bakteri. Perhatikan tanda-tanda seperti kemerahan yang semakin luas, bengkak, rasa nyeri yang bertambah, nanah, demam, atau garis kemerahan yang menjalar dari luka.
Infeksi pada gigitan kucing dapat berkembang meskipun lubang lukanya tampak kecil. Jika tanda-tanda tersebut muncul, segera periksakan diri. Dokter mungkin mempertimbangkan pemberian antibiotik berdasarkan jenis luka dan kondisi pasien.
Jangan menggunakan antibiotik sisa tanpa pemeriksaan. Antibiotik tidak mencegah rabies dan tidak menggantikan vaksin atau tindakan pencegahan rabies yang diperlukan.
FAQ Seputar Gigitan Anjing dan Kucing
Apakah gigitan kucing kecil tetap berbahaya?
Ya. Gigitan kucing dapat membuat luka tusuk yang dalam sehingga bakteri masuk ke jaringan. Jika kulit terluka, segera cuci selama sekitar 15 menit dan cari penilaian medis, termasuk untuk menilai risiko rabies.
Bagaimana jika digigit anjing peliharaan sendiri?
Tetap bersihkan luka dan periksakan diri jika kulit tertembus atau terluka. Informasi vaksinasi anjing dan kondisi kesehatannya dapat membantu dokter menilai risiko, tetapi tidak menggantikan pemeriksaan.
Apakah luka gigitan boleh diberi alkohol?
Alkohol bukan pilihan utama untuk membersihkan luka gigitan dan dapat mengiritasi jaringan. Prioritaskan pencucian dengan air mengalir dan sabun selama sekitar 15 menit, kemudian cari pertolongan medis.
Berapa lama setelah digigit vaksin rabies harus diberikan?
Penilaian dan tindakan pencegahan perlu dilakukan sesegera mungkin. Jangan menunggu beberapa hari atau sampai muncul gejala. Jika paparan dinilai berisiko, tenaga medis akan menentukan jadwal vaksin dan kebutuhan imunoglobulin sesuai kondisi korban.
Apa yang harus dilakukan jika hewan yang menggigit kabur?
Jangan mengejar atau menangkap hewan jika tindakan itu membahayakan Anda. Catat ciri-ciri dan lokasi kejadian jika aman, lalu segera datangi fasilitas kesehatan untuk penilaian risiko rabies.
Kesimpulan
Digigit anjing atau kucing bukan kejadian yang sebaiknya dianggap sepele, meskipun lukanya terlihat kecil. Segera cuci luka dengan air mengalir dan sabun selama sekitar 15 menit, kendalikan perdarahan, tutup dengan kasa bersih, dan cari pertolongan medis secepatnya.
Langkah terpenting adalah tidak menunda penilaian risiko rabies. Penanganan yang tepat sejak awal dapat membantu mencegah komplikasi dan memastikan korban memperoleh perlindungan yang sesuai. Jika gigitan menimbulkan luka berat atau perdarahan tidak terkendali, segera menuju instalasi gawat darurat.








