
Selama ini, kanker usus besar sering dianggap sebagai penyakit yang lebih banyak terjadi pada orang berusia lanjut. Padahal, kanker kolorektal juga dapat ditemukan pada usia yang lebih muda. Karena itu, keluhan pencernaan yang menetap sebaiknya tidak selalu dianggap sebagai masalah biasa, terutama jika terdapat perubahan yang tidak sesuai dengan kondisi tubuh sebelumnya.
Kabar pentingnya, munculnya satu gejala tidak otomatis berarti seseorang terkena kanker usus besar. Banyak gangguan yang lebih umum, seperti wasir, infeksi saluran pencernaan, sindrom iritasi usus, atau pola makan tertentu, dapat menimbulkan keluhan serupa. Namun, heysehat menyebutkan mengenali tanda peringatan dapat membantu seseorang mengetahui kapan pemeriksaan medis diperlukan.
Apa Itu Kanker Usus Besar?
Kanker usus besar merupakan pertumbuhan sel abnormal pada bagian usus besar. Kanker kolorektal mencakup kanker yang berkembang di usus besar maupun rektum.
Pada sebagian kasus, penyakit ini dapat berawal dari polip, yaitu pertumbuhan jaringan pada lapisan dalam usus. Tidak semua polip menjadi kanker, tetapi beberapa jenis polip dapat berubah menjadi kanker dalam perjalanan waktu.
Karena perubahan tersebut dapat berlangsung tanpa gejala yang jelas, pemeriksaan sesuai usia dan tingkat risiko menjadi bagian penting dalam pencegahan.
Mengapa Kanker Usus Besar pada Usia Muda Perlu Diperhatikan?
Seseorang yang masih muda mungkin cenderung menganggap perubahan pola BAB, nyeri perut, atau darah pada tinja sebagai gangguan pencernaan biasa.
Masalahnya, jika keluhan terus berulang tetapi tidak diperiksa, penyebab sebenarnya bisa terlambat diketahui.
Selain faktor usia, risiko kanker kolorektal dapat dipengaruhi oleh riwayat keluarga, kondisi genetik tertentu, penyakit radang usus, pola hidup, dan faktor lainnya. Artinya, usia muda tidak selalu berarti risiko seseorang adalah nol.
Gejala Kanker Usus Besar yang Perlu Dikenali
1. Perubahan Pola Buang Air Besar
Perubahan kebiasaan BAB merupakan salah satu tanda yang perlu diperhatikan. Misalnya, seseorang yang biasanya BAB teratur tiba-tiba mengalami diare atau sembelit yang berlangsung lama.
Perubahan juga dapat berupa frekuensi BAB yang berubah atau merasa belum benar-benar selesai setelah buang air besar.
Tentu saja, perubahan BAB dapat disebabkan banyak hal. Namun, jika berlangsung terus-menerus atau semakin berat, sebaiknya konsultasikan dengan dokter.
2. Darah pada Tinja
Darah pada tinja sering kali langsung dianggap sebagai wasir. Memang, wasir merupakan salah satu penyebab yang umum.
Namun, perdarahan dari saluran pencernaan juga dapat memiliki penyebab lain, termasuk gangguan pada usus besar. Warna darah dan bentuk perdarahan dapat berbeda-beda tergantung sumbernya.
Karena itu, jangan melakukan diagnosis sendiri hanya berdasarkan warna darah.
3. Perut Sering Nyeri atau Kram
Nyeri perut sesekali dapat terjadi setelah mengonsumsi makanan tertentu atau akibat gangguan pencernaan ringan.
Yang perlu diperhatikan adalah nyeri atau kram yang berulang, menetap, semakin berat, atau disertai perubahan BAB dan gejala lain.
Rasa penuh atau tidak nyaman di perut yang terus muncul juga layak dievaluasi jika tidak kunjung membaik.
4. Perut Terasa Kembung Berkepanjangan
Kembung merupakan keluhan yang sangat umum. Makan terlalu cepat, minuman berkarbonasi, intoleransi makanan, dan berbagai masalah pencernaan dapat menjadi penyebabnya.
Namun, jika kembung terjadi terus-menerus dan muncul bersama perubahan pola BAB, nyeri perut, penurunan berat badan, atau darah pada tinja, pemeriksaan medis sebaiknya dipertimbangkan.
5. Berat Badan Turun Tanpa Direncanakan
Penurunan berat badan tanpa mengubah pola makan atau meningkatkan aktivitas fisik dapat memiliki berbagai penyebab.
Jika berat badan turun secara tidak sengaja dan disertai keluhan pencernaan yang menetap, kondisi tersebut sebaiknya tidak diabaikan.
Penurunan berat badan bukan tanda khusus kanker usus besar, tetapi dapat menjadi salah satu alasan dokter melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
6. Mudah Lelah
Kelelahan berkepanjangan juga memiliki banyak kemungkinan penyebab. Namun, perdarahan pada saluran pencernaan yang berlangsung perlahan dapat berkontribusi terhadap anemia, yang kemudian menyebabkan tubuh terasa lebih lemas atau mudah lelah.
Jika kelelahan tidak biasa muncul bersama darah pada tinja atau perubahan kebiasaan BAB, sebaiknya lakukan evaluasi kesehatan.
7. Tinja Berubah Bentuk atau Konsistensi
Perubahan bentuk dan konsistensi tinja yang terjadi sesekali biasanya tidak perlu langsung dicurigai sebagai penyakit serius.
Namun, perubahan yang menetap atau berulang, terutama jika disertai gejala lain, perlu diperhatikan.
Catat perubahan yang terjadi agar dapat dijelaskan dengan lebih jelas ketika berkonsultasi dengan dokter.
Siapa yang Berisiko Mengalami Kanker Usus Besar?
Selain usia, beberapa faktor dapat meningkatkan risiko. Salah satunya adalah riwayat keluarga dengan kanker kolorektal atau polip tertentu.
Kondisi genetik tertentu juga dapat meningkatkan risiko. Begitu pula penyakit radang usus seperti kolitis ulseratif atau penyakit Crohn pada kondisi tertentu.
Faktor gaya hidup juga perlu diperhatikan, termasuk kurang aktivitas fisik, pola makan yang kurang sehat, berat badan berlebih, konsumsi alkohol, dan kebiasaan merokok.
Memiliki satu faktor risiko tidak berarti seseorang pasti terkena kanker. Namun, informasi tersebut penting ketika menentukan kebutuhan pemeriksaan.
Bagaimana Kanker Usus Besar Dideteksi?
Dokter dapat melakukan evaluasi berdasarkan gejala, riwayat kesehatan, dan faktor risiko. Pemeriksaan dapat meliputi tes darah tertentu, pemeriksaan tinja, hingga pemeriksaan kolonoskopi sesuai indikasi.
Kolonoskopi memungkinkan dokter melihat bagian dalam usus besar menggunakan alat khusus. Jika ditemukan polip atau jaringan yang mencurigakan, dokter dapat melakukan tindakan lanjutan untuk menentukan sifat jaringan tersebut.
Tidak semua orang membutuhkan pemeriksaan yang sama. Karena itu, jadwal dan jenis skrining sebaiknya ditentukan berdasarkan usia, risiko, riwayat keluarga, dan rekomendasi tenaga medis.
Bisakah Kanker Usus Besar Dicegah?
Tidak semua kasus dapat dicegah, tetapi sejumlah kebiasaan dapat membantu menjaga kesehatan usus dan menurunkan risiko.
Konsumsi makanan dengan serat yang cukup, memperbanyak sayur dan buah, aktif bergerak, menjaga berat badan, tidak merokok, serta membatasi konsumsi alkohol merupakan langkah yang baik untuk kesehatan secara keseluruhan.
Yang tidak kalah penting adalah tidak mengabaikan perubahan pada sistem pencernaan yang menetap.
Kapan Harus ke Dokter?
Segera konsultasikan dengan dokter jika mengalami darah pada tinja, perubahan pola BAB yang terus berlangsung, nyeri perut berulang, penurunan berat badan tanpa sebab, kelelahan yang tidak biasa, atau perubahan kebiasaan buang air besar yang tidak kunjung membaik.
Jika perdarahan cukup banyak, disertai pusing berat, lemas, pingsan, atau nyeri perut hebat, diperlukan pertolongan medis segera.
Kesimpulan
Kanker usus besar tidak hanya perlu diperhatikan pada usia lanjut. Orang yang lebih muda juga dapat mengalaminya, terutama jika memiliki faktor risiko tertentu. Karena itu, perubahan pola BAB, darah pada tinja, nyeri perut berulang, kembung berkepanjangan, penurunan berat badan tanpa sebab, hingga kelelahan sebaiknya tidak terus-menerus dianggap sebagai gangguan pencernaan biasa.
Namun, penting diingat bahwa gejala tersebut tidak secara otomatis menunjukkan kanker. Banyak kondisi lain dapat menimbulkan keluhan serupa.
Langkah terbaik adalah mengenali perubahan tubuh, mencatat keluhan yang berlangsung lama, dan berkonsultasi dengan dokter jika terdapat tanda yang mengkhawatirkan. Deteksi dan penanganan yang tepat dapat membuat masalah kesehatan lebih mudah ditangani.
FAQ
1. Apakah anak muda bisa terkena kanker usus besar?
Bisa. Walaupun risiko umumnya meningkat seiring bertambahnya usia, kanker kolorektal juga dapat terjadi pada orang yang lebih muda. Faktor genetik, riwayat keluarga, penyakit tertentu, dan faktor gaya hidup dapat memengaruhi risiko.
2. Apakah BAB berdarah pasti merupakan kanker usus besar?
Tidak. Wasir, fisura ani, infeksi, dan kondisi lain juga dapat menyebabkan darah pada tinja. Namun, perdarahan yang berulang atau tidak diketahui penyebabnya sebaiknya diperiksa.
3. Apakah sembelit bisa menjadi tanda kanker usus besar?
Sembelit lebih sering disebabkan oleh faktor seperti kurang serat, kurang minum, kurang aktivitas, atau efek obat tertentu. Namun, sembelit yang baru muncul, menetap, atau disertai gejala lain perlu dievaluasi.
4. Apakah perut kembung berarti kanker usus?
Tidak. Kembung sangat umum dan dapat dipicu oleh pola makan, gas dalam saluran pencernaan, intoleransi makanan, atau gangguan pencernaan lainnya. Kembung yang menetap bersama gejala peringatan sebaiknya diperiksakan.
5. Apakah kanker usus besar dapat dicegah?
Tidak semua kasus dapat dicegah. Namun, pola makan seimbang, aktivitas fisik, menjaga berat badan, tidak merokok, membatasi alkohol, dan melakukan skrining sesuai risiko dapat membantu mengurangi risiko atau menemukan masalah lebih awal.
6. Apakah orang tanpa gejala perlu melakukan skrining?
Kebutuhan skrining bergantung pada usia dan faktor risiko seseorang. Orang dengan riwayat keluarga atau kondisi tertentu mungkin memerlukan pemeriksaan lebih awal. Konsultasikan dengan dokter untuk menentukan pemeriksaan yang sesuai.
7. Kapan darah pada tinja harus segera diperiksa?
Darah pada tinja yang berulang, tidak diketahui penyebabnya, atau disertai perubahan pola BAB, nyeri perut, penurunan berat badan, dan kelelahan sebaiknya diperiksakan. Jika perdarahan banyak atau disertai pusing, lemas berat, atau pingsan, cari pertolongan medis segera.








